Jupiter Fourtisimo : 'Aku Terjebak Ekstasi dan Seks Bebas'

Selasa, 14 April 2009 04:40:31 - oleh : ChRiStiNe

  Perceraian orang tuanya membuat  Jupiter Fortissimo Jansen Talloga, bintang
sinetron dan model ini masuk dalam dunia semu dan laknat.
  Di pinggir kolam renang  apartemen ITC Permata Hijau Tower A di lantai 8,
Jupiter Fortissimo Jansen Talloga, 26, muncul. Wajahnya nampak cerah.   Di bahu
bergayut tas backpack,  Tangannya memegang bibel yang bersampul kulit sapi,
warna coklat.  Ia baru saja pulang kuliah.
  "Semenjak aku menceritakan  kehidupanku yang kelam 17 Desember 2007. Hidupku  
jauh lebih tenang," ujar pria kelahiran Jakarta,  3 Februari 1982
  Ditingkahi suara derai hujan,  Jupiter menumpahkan  rangkaian perjalanan
hidupnya pada Witri Suarti dari Tabloid Wanita Indonesia.
  Mami Papi Cerai    Cerai, adalah kata yang paling aku benci.  Karena
perceraian inilah yang menjerumuskanku ke dunia yang kelam. Mamiku melahirkan 4
anak, aku anak ketiga.   Mami  beberapa kali kawin cerai. Sehingga, aku dengan
saudara-sauadaraku, satu  kandung, namun lain bapak.
  Aku tak ingat, berapa tahun  usiaku ketika   Papi dan Mami bercerai.  Yang
jelas waktu itu aku belum sekolah, mungkin masih balita (bawah lima tahun).  
Namun, saat itu aku merasakan kesedihan.  Waktu Papi dan Mami masih bersama,
kami tinggal di  Jakarta. Hingga suatu hari aku dan  tiga kakak, dan 1 adik
ikut dengan Mami untuk menetap di Medan.  Kami tinggal bersama-sama orang tua
Mami dan Tante.  Di situ juga ada pembantu rumah tangga, dan dua orang pengasuh
laki-laki, yang biasa aku panggil Oom.
  Di masa itu, masih kuingat Mami bekerja keras untuk menghidupi  aku dan
saudara-saudaraku.  Dia wanita yang kuat, bayangkan bolak balik  Jakarta Medan,
untuk menyambung hidup kami, bekerja di sebuah MLM (Multi Level Marketing)   
Walau sibuk,  tiap minggu mami  tak pernah lupa mengajak kami ke Gereja.  
  Pelecehan Seksual Itu   Kata banyak orang, sejak kecil, aku paling cute
dibanding saudara-saudaraku. Sehingga banyak orang  gemas  dan ingin mencubit
pipiku. Namun suatu hari sebuah kejadian menimpaku. Kejadian ini mempengaruhi
perkembangan diriku di masa depan.
  Saat Mami,  pembantu rumah tangga,  nenek dan Tante pergi.  Ketika itu hanya
ada aku dan saudaraku yang lainnya yang masih kecil. Kami semua dititipkan oleh
para pengasuh.  
  Aku masih ingat, saat itu aku tengah tidur siang,  pengasuhku  datang dan
tidur di sisiku.  Kemudian Ia mulai mengelusku dan lama-kelamaan terjadi
pelecehan seksual padaku.
  Waktu itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa arti dari perlakuannya
itu. Aku juga tak cerita pada  Mami atau pada orang lain. Aku pikir, perlakuan
pengasuh itu sebagai ekspresi kasih sayang pria dewasa.  Ia mendekatiku dengan
penuh kasih sayang.  Aku tak tahu apakah hal ini harus ditanyakan pada Mami.
Lagipula, bagi anak sekecilku saat itu, perlakuan itu tidak kasar.
  Karena aku tak pernah bertanya dan diam saja, kedua pengasuh laki-laki itu
menjadi sering melakukan pelecehan seksual. Setiap hal itu dilakukan padaku,
aku merasa bahwa hal itu wajar.  
  Kalau ingat peristiwa ini saat ini, huekk! Aku ingin muntah dan marah. Iblis
telah mengoyak-ngoyakku sejak aku balita.
  Jatuh Cinta   Saat duduk di kelas 1 SMP,  Mami mengajak aku dan saudaraku  
pindah ke Jakarta. Saat itu, aku tak tahu apakah aku harus bersyukur atau tidak
jauh dari  dua pengasuhku.  Aku cuma menjalani  kehidupan ini.
  Di Jakarta, dengan penampilanku yang lumayan,  banyak teman wanita mendekati.
Salah satunya menarik hati dan  membuatku jatuh cinta. Kami pun pacaran.   
  Sebagai remaja, aku mulai berpikir dewasa. Aku kasihan melihat Mami banting
tulang. Aku bertekad mencari uang sendiri.  Dengan tampangku yang lumayan ini,
aku mencoba mengikuti Pemilihan Coverboy di sebuah majalah remaja. Aku berhasil
masuk finalis dan dari situ karirku mulai menapak. Dengan honor pemotretan dan
acara-acara yang aku hadiri, aku bisa memiliki uang saku sendiri.  Aku bahagia,
karena bisa meringankan beban Mami.
  Beberapa tahun setelah itu, aku mudah sekali mendapatkan uang. Tawaran main
sinetron, film, iklan, mulai membanjir. Aku lupa diri. Aku habiskan uang itu,
untuk senang-senang. Aku memang norak. Saat itu aku merasa butuh pengakuan
kalau aku ini  'oke' dari teman-temanku. Tak heran aku berlaku royal sekali
mentraktir teman-temanku untuk makan, minum, dan lainnnya.  
  Masuk SMA, aku makin 'mabuk popularitas', hingga kemudian terjerat narkoba .
Aku mulai memakai ekstasi, berkenalan dengan dunia gemerlap, clubbing setiap
minggu, hang out dari satu kafe ke kafe lainnya. Pergaulanku semakin bebas.
   Saat itu aku memilih pindah dari rumah dan tinggal di apartemen, agar bisa
hidup bebas.  Uang dari hasil bekerja, aku habiskan untuk berfoya-foya di
club-club di Jakarta, termasuk membeli ekstasi agar aku bisa lincah menari.
  Saat clubing inilah aku bertemu dengan banyak kawan baru. Di sini juga aku
mencoba pengalaman baru merasakan bebasnya melakukan seks. Bertemu teman baru
di club, tertarik, suka sama suka, berkenalan, dan kemudian berlabuh di hotel
untuk pesta seks. Jujur saat itu aku melakukan dengan siapa pun. Baik  
laki-laki atau perempuan.  
  Jujur,  saat itu aku lebih suka berhubungan dengan laki-laki. Walau aku juga
bisa berhubungan dengan perempuan. Setanbenar-benar membuat aku tak malu
melakukan perbuatan dosa.  Aku cuek saja.  Bebas sebebas-bebasnya melakukan hal
yang aku inginkan.  Saat itu aku juga mulai sombong dengan pekerjaanku sebagai
bintang sinetron. Kelakukanku yang suka clubbing dan menkonsumsi ekstasi,
membuat aku sering telat ke lokasi syuting. Pesta seks semalam dan ekstasi
membuat benar-benar bodoh.    
  7 Hari Berturut-turut di Diskotik  Tahun 2001, aku mulai sedikit berpikir.  
Sampai kapan aku begini? Entah mengapa kemudian aku melangkahkan kakiku ke
gereja. Namun, seta menguasaiku kembali. Hanya sebentar ke gereja, aku
terjerumus lagi. Bahkan lebih dalam. Ini karena aku berpikir bahwa aku  tak
akan sembuh dari orientasi seks homoseksual dan ekstasi. Ya sudah, aku nikmati
dan jalani saja dosa-dosa ini.  Aku tak peduli dengan Tuhan, agama dan moral.   
  Tahun 2002 Mami mulai mencium kegilaanku itu. Karena aku tak lagi merayakan
Natal bersama keluarga.  Saat Jumat, Sabtu, Minggu, aku clubbing di lantai
dansa, dan selalu berujung di hotel untuk berpesta seks dan juga menikmati
ekstasi.   
  Aku cuma bisa menyalahkan perceraian Mami Papiku, dan meluapkan kemarahan
pada dua pengasuhku dulu yang biasa aku panggil Om. Dialah awal malapetaka ini.
Merekalah yang telah melukis dosa di tubuhku.
  Tahun 2003, aku tak ikut merayakan Natal. Aku tak peduli. Aku asyik  masyuk
dengan dosa.  Menikmati dunia gelapku, aku terus berkenalan dengan orang-orang
baru  yang bisa kuajak pesta seks. Bayangkan, aku bisa  7 hari berturut-turut
di diskotik tanpa henti!
  Tahun 2004, Mami datang ke apartemenku. Dia mencoba menasehatiku. Aku nggak
peduli, malah aku mengusirnya.  Tubuhku waktu itu benar-benar telah dikuasai
setan.  
  Namun, Mami tak pernah putus asa.  Mami datang lagi  saat   di penghujung
Desember,  ia memberiku hadiah sebuah bible dari Eropa,  harganya Rp 500.000,-
. Tiba-tiba saja keharuan menyelimutiku. Ada perasaan sejuk saat itu. Aku
meneteskan air mata, kupeluk mami.  Kami berdua bertangisan.   
  Mami tak banyak berkata-kata. Namun dari bibel pemberian, ada banyak makna
yang tersimpan. Aku tahu, Mami saat itu sedang susah. Namun, ia usahakan
membeli bible mahal itu. Padahal aku tahu,  Mami bukan tipe  wanita yang
romantis yang suka memberikan hadiah.  Aku tersadar, Mami selama ini berdoa
untukku. Berdoa agar aku  tak tenggelam lebih jauh lagi.
  Aku Takut Tuhan   Waktu itu aku belum berani membuka bible. Aku pikir, aku
berlumur dosa tak pantas membuka buku suci itul. Hingga di tahun 2005, aku
perhatikan bible itu, pelan-pelan aku buka, tiba di  Korintus 6 ayat 9 Korintus
6 ayat 9. Janganlah  sesat!  Orang Cabul, penyembah berhala, orang berzinah,
banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah, dan penipu tak
 akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah.  
  Aku tercekat. Air mataku bersimah dengan derasnya. Apa yang disebukan di
dalam kitab itu sebagian ada pada diriku. Aku tobat, mohon ampun pada Tuhan.
Detik itu juga, aku berjanji tak akan lagi menikmati ekstasi, pergaulan bebas,
homoseksual.  Aku ingin mendapat bagian dalam kerajaan Allah.  
  Ternyata cobaan  untuk ke arah Tuhan, sangat berat. Pergaulanku  dengan
orang-orang yang terjerat ekstasi  tak bisa kuhindari.   Aku sekuat tenaga
menjauhi   pergaulan bebasku.
  Dengan kekuatan doa, bersyukurlah aku terbebas dari itu semua. Hanya saja,
dampak ekstasi itu masih bersisa di tubuhku.  Kini aku menjadi sering lamban
berpikir  dan pelupa. Bahkan syarafku sempat terjepit di punggung. Aku sampai
terbongkok-bongkok bila berjalan. Kata dokter, kalau aku biarkan, aku bisa
lumpuh. Beruntung aku bisa diselamatkan. Terima kasih Tuhan, Kau beri aku
jalan.  
  Kuliah  Rohani  Lambat laun pengaruh jahat dari ekstasi mulai lepas dariku.
Aku kembali bisa berjalan tegap lagi. Aku juga makin  giat ke gereja dan
membaca kitab.
  Kakak-kakak rohaniku menyarankan agar aku kuliah  Di  Rhema Bibel Training,
Cabang  Amerika, di kawasan Daan Mogot, untuk belajar  bible selama 2 tahun.   
Kuliah ini sangat kuperlukan agar rohaniku terus menerus disirami oleh Tuhan.
Dengan begitu rohaniku akan terus terpantau. Sehingga aku tak akan balik lagi
ke dunia yang gelap. Dulu di tahun 2001, aku sempat tobat, tapi karena tak
terus menerus aku sirami. Aku  kembali terjerat ekstasi dan pergaulan bebas.    
  Sekarang, aku benar-benar siap untuk menikah.  Dulu aku sempat punya kekasih.
Namun, aku tak berani menikah. Karena aku tak mau menyakiti hati istriku.
Karena dalam kondisi aku seperti dulu.  Berarti aku akan mengkhianati istriku,
dengan tetap berhubungan dengan teman sejenis.
  Ada beberapa wanita yang sekarang ini tengah kulirik. Kami sama-sama punya
minat yang sama pada Agama.  Aku berdoa, semoga aku mendapatkan  istri yang
sama-sama memperkuat  rohani kami.  
  Di bulan Desember 2007 lalu, aku tiba-tiba dihubungi teman, untuk
menggantikan Roy Marten yang  waktu itu ditahan di Surabaya, untuk memberi
kesaksian di hadapan mantan narapidana dan narkoba di  Healing centre, Gedung
wisma mulya,  City plaza, tanggal 17 Desember 2007.  Aku langsung menyanggupi.
Waktu itu dalam pikiranku, aku akan memberikan kesaksianku  telah lepas dari
narkoba.  
  Tiba di acara itu, aku juga bertemu dengan Yoan tanamal dan Rony Sianturi.  
Saat itu, aku ingat:  Yaqobus 5 ayat 16:  Karena itu, hendaklah kamu saling
mengakui dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar  
bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya.  
  Kesaksian Pertamaku   Hatiku dag dig dug, namun saat itu aku bertekad tak
hanya menceritakan  masa laluku dengan narkoba, namun aku akan menguak
rahasiaku,  saat kecil  mengalami pelecehan sekssual oleh 2 orang laki-laki.  
  Saat namaku dipanggil. Tubuhku bergetar hebat. Mengakui masa lalu yang sangat
pahit , sangatlah berat.  Namun aku ingin doa  dari saudara-saudaraku, agar aku
sembuh.  Aku melangkah maju menuju podium. Suara bisik-bisik, orang-orang
mengobrol,  berdengung di telingaku.
  "Saudara-saudara, tolong diam sejenak. Aku akan mengungkap rahasia hidupku.  
Selain lepas dari ekstasi, ada kisah lain yang belum pernah aku ungkap,"
ujarku.   Sekitar   300 orang  yang mendengarku, langsung terdiam. Mereka
mendengarkan aku bicara selama setengah jam. Begitu usai mereka memelukku.
Mereka tak pernah menyangka aku mengalami   pelecehan seks di usia sangat muda.
  Setelah pengakuan itu, aku merasa suka cita, dadaku terasa plong, bebas.
Namun setelah itu aku deg-degan,  karena ini pengalaman pertamaku, aku takut
respon  yang tak mengenakan.  Namun setelah kejadian itu, aku jadi lebih
ringan. Aku yakin orang-orang itu mendoakan aku, supaya aku sembuh.
  Mamiku terharu dan bangga melihat keberanianku ini. "Jupiter, kamu luar
biasa," ujarnya.
  Kupikir, bila aku menebarkan kisahku ini pada lebih banyak orang lagi,  
artinya akan banyak berkah ditebarkan.  Karena aku ingin,  kisahku ini jadi  
pelajaran bagi banyak orang.  Kalau aku ini begini akibat orang tua bercerai.
Aku ingin gaungkan pada para orang tua untuk mengasihani anak-anak mereka,
jangan sampai mereka senasib denganku.  
  Selama 3 jam aku berdoa pada Tuhan, untuk diijinkan berbicara pada  
infotainmen, yang akan disaksikan penggemarku di seluruh Indonesia. Karena
dengan media ini, suaraku akan lebih banyak didengar orang.  Setelah aku muncul
di sebuah infotainmen dengan sebuah pengakuan. Aku pun merasa lega atas
kejujuran ini meski sempat deg degan menanti dampak dari munculnya kisahku di
infotainmen, pasti akan lebih hebat.
  Caci Maki dan Dukungan   Benar! Tak berapa lama, wajahku muncul di televisi,
telepon genggamku terus berbunyi. Begit jugha SMS.  Isinya  ada yang menulis,
munafik, kurang kerjaan dan cari sensasi. Tentu saja mereka tak menyantumkan
nama di sms dengan nomor yang tak kukenal itu.
  Tapi, puji Tuhan, lebih banyak yang mendukungku daripada mencaci maki. Demi
Tuhan, untuk apa aku cari sensasi.  Tapi aku tak peduli dengan tanggapan orang,
karena niatku baik.
  Komunitasku  yang anggotanya ada yang mantan pelacur, gigolo, terus menerus
mendorongku.  Bahkan, ada  3 orang lelaki dengan cucuran air mata mereka
bercerita kalau pernah mengalami hal serupa ketika kecil.  
  Sekarang kesibukanku  lebih banyak kutujukan untuk Tuhan. Pagi hingga siang
hari aku kuliah biblel,  siang hingga sore hari bertemu dengan teman-teman
komunitas,  malam hari aku berdoa. Aku juga mengajar di Semarang. Tapi, aku
tetap menjalani pekerjaanku sebagai artis, beberapa waktu yang lalu, aku
syuting untuk FTV.  

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Info "Testimony" Lainnya

© 2008-2011 www.PemudaSolafideTinoor.com